Agama Druze (Darazi - Muwahhidun Ad-Duruz)

Thursday, January 03, 2013
Druze (juga dikenal sebagai Druse; bahasa Arab: darazī درزي, maj. durūz دروز) adalah sebuah komunitas keagamaan yang basisnya umumnya terdapat di Timur Tengah. Kelompok ini muncul dari Islam dan dipengaruhi oleh agama-agama dan filsafat-filsafat lain, termasuk filsafat Yunani. Kaum Druze menganggap dirinya sebagai "sebuah sekte Islam Uniat, pembaruan", meskipun mereka tidak dianggap Muslim oleh kebanyakan Muslim di wilayah tersebut. Kaum Druze menyebut dirinya Umat Monoteisme atau Muwahhidūn ("Monoteis"). Kaum Druze tidak suka dipanggil atau disebut bahwa dia dari golongan tersebut(Druze),dan bahkan enggan kalau sampai orang lain menggolongkan mereka kepada pengikut Nustakin ad-Druz dan kita akan melihat mereka dengan keras menentang dan bahkan menuduhnya dengan murtad dan keluar dari seruan dan aqidah mereka,dan mereka hanya mau disebut dengan panggilan "al-Muwahhidin" yaitu penamaan yang mereka kenal dalam kitab suci mereka,dengan demikian penamaan "ad-druz" adalah penamaan yang salah dan sudah semestinya kita menyebut mereka dengan panggilan yang tercantum dalam kitab suci mereka [monte.multiply.com].  Asal-usul nama Druze ditelusuri ke Muhammad ad-Darazī, yang terkenal sebagai pendiri sekte ini.

Profil

Nama                 : Druze/Darazi
Pendiri/Pengasas : Hamza bin Ali
Tuhan                 : Allah (konteks Druze)/Al-Hakim
Kitab Suci           : Quran/Al-Hikma


Sejarah Kaum Druze

Druze dimulai pada abad 9 M, Agama ini berkembang dari Islam Ismailiyah, sebuah gerakan filsafat yang didasarkan pada Bani Fatimiyah(Syi'ah), pada abad ke-10, suatu masa yang kaya kebudayaannya. Agama ini tidak berusaha mengubah Islam arus utama melainkan menciptakan suatu agama yang sama sekali baru, yang dipengaruhi antara lain oleh filsafat Yunani, Gnostisisme dan Kekristenan.

Agama ini dipopulerkan oleh seorang da`i bernama Darazi dan Hamza bin Ali bin Ahmad, seorang penganut ilmu kebatinan dari Persia. Penguasa Fātimiyah yang saleh Tariqu l-Ḥakīm (985–1021)--juga dikenal sebagai Al-hakim atau al-Ḥakīm bi 'Amru l-Lāh ("Pemimpin di dalam Nama Allah")--adalah seorang kalifah Ismaili dari Mesir yang dipercayai oleh sebagian orang sebagai penjelmaan Allah oleh kaum Darazi. Imām Ḥamza inilah yang pertama-tama secara terbuka mengumumkan bahwa Ḥakīm lebih dari pada seorang manusia biasa.Sekarang mereka percaya bahwa apa yang diajarkan Darazi mulai menyimpang; tulisannya sekarang dianggap menghina Tuhan.
Da`i bernama Darazi dan Hamza bin Ali bin Ahmad secara terbuka mengumumkan bahwa Ḥakīm lebih dari pada seorang manusia biasa. yang dipercayai oleh sebagian orang sebagai penjelmaan Allah oleh kaum Darazi.
Agama Druze adalah sebuah gerakan filsafat-keagamaan yang didirikan oleh kekhalifahan Fatimiah di Mesir pada abad kesepuluh. Baru Pada masa pemerintahan Al Hakim (996-1021) Druze menjadi suatu kepercayaan yang merupakan campuran dari agama Islam, Filsafat Yunani ,dan agama Kristen. Usaha menarikpenganut-penganut baru menyebabkan agama ini sejak tahun 1050 komunitas ini tertutup bagi komunitas lainnya.

Komunitas Druze berada di selatan Lebanon dan di utara Israel. Setelah penaklukanOttoman ke Syria (1516), komunitas Druze berpindah daerah perbukitan di dekat Allepo dan Sultan Selim I memberikan kekuasaan kepada Fakhr al-Din ( Pemimpin keagamaan Druze) dengan kekuasaan lokalnya. Konflik kemasyarakatan antara komunitas Druze di Lebanon dan Kristen yang berakhir pada tahun 1860 dengan suatu otonomi di daerah gunung Lebanon. Lebanon yang telah mempunyai kekuasaan yang besar. Komunitas Druze tidak pernah dapat menguasai daerah itu lagi dan tidak dapat menjadi komunitas lagi di negara itu. Mereka dipindahkan ke gunung Hauran di Syria, yang dikenal dengan nama Jebel el-Druze (Gunung Druze), sebuah nama yang mempunyai persamaan makna dengan gunung Lebanon.

Setelah kekuasaan Ottoman berakhir pada tahun 1918, komunutas Druze dipimpin olehseorang Emir (pemimpin agama), dengan kekuasaan semi otonomi.Pada tahun 1921, Perancis mencoba membentuk sebuah negara Druze dibawah mandat Perancis, tetapi usaha itu gagal.

Komunitas Druze di Galilea dan Gunung Carmel tetap menjaga hubugan baik dengan komunitas Druze lainnya seperti di Gunung Hermon dan di Lebanon. Pada saat pemerintahan Inggris di Palestina, komunitas ini terlibat pula dengan konflik antara Arab dan Yahudi dan saat perang kemerdekaan Israel pada tahun 1948, komunitas Druze menjadi komunitas yang aktif mendukung Israel

Perkembangan Agama Druze ini dimulai saat berkuasanya kekhalifan Fatimiah yang pada saat itu menguasai wilayah Afrika Utara dan berpusat di Kairo, Mesir pada abad ke 10. Saat itu, kekhalifan Fatimiah menjadi pusat kebudayaan Islam yang terpenting di Timur Tengah. Pada saat itu pula terjadi akulturasi di sebagian pemeluk agama Islam yaitu dengan Yahudi, Nasrani, dan Yunani Kuno. Akulturasi inilah yang menyebabkan munculnya Agama Druze.

Perkembangan agama ini baru berjalan ketika Al-Hakim naik tahta menjadi khalifah dari kekhalifan Fatimiah pada tahun 996 M pada umur 11 tahun. Dalam catatan sejarah, Al-Hakim adlah raja yang terkenal dengan pemerintahan tirani yang kejam. Masa pemerintahannya berakhir ketika ia tiba-tiba menghilang saat ia berjalan sendiri pada bulan Februari 1021.

Pembentukan agama ini dimulai ketikan seorang Persia yaitu Darazi methabiskan Al-Hakim yang saat itu berkedudukan sebagai khalifah Ismail sebagai pembawa wahyu dengan jukukan Tuhan yang terlihat (nyata). Setelah mendengar berita pethabisan itu dari Imam Hamza, banyak reaksi negatif datang dari kalangan masyarakat yang dipimpin oleh Imam Hamza sendiri . Akibat dari penolakan itu menyebabkan Darazi dihukum dan Al-Hakim dikucilkan dari masyarakat. Saat pengucilan itulah secara tiba-tiba Al-Hakim menghilang di suatu malam pada tanggal 1021. Para pemeluk Agama Druze percaya bahwa Al-Hakim telah berpindah ke alam gaib dan akan kembali pada saat kiamat sebagai Qa`im (penerang) atau Mahdi (penunjuk jalan). [http://teguhmanurung.wordpress.com/2008/10/03/druze-faith/]

Ajaran & Kepercayaan Agama Druze

Simbol Keagamaan
Bila dalam ajaran Islam simbol yang digunakan adalah Bulan sabit, maka dalam kepercayaan Druze yang menjadi simbol adalah bintang bersegi lima dengan lima macam warna yang berbeda. 
Bintang Druze
Adapun makna yang terkandung dalam simbol itu adalah 
  • Hijau melambangkan kepandaian
  • Merah melambangkan jiwa
  • Kuning melambangkan bahasa
  • Biru melambangkan teladan, dan 
  • Putih melambangkan iman. 
[http://teguhmanurung.wordpress.com/2008/10/03/druze-faith/]

Dasar Pondasi Keagamaan Druze
Seperti ajaran agama lainnya yang mempunyai suatu hukum yang dipercayai berasal dari Tuhan seperti Sepuluh Perintah Allah dalam agama nasrani, agama Druze juga mempunyai suatu hukum yang dinamakan Tujuh Pilar Hamza, yaitu :
  1. Kebenaran dalam kata-kata (berkata jujur) dengan sesama umat Druze. Akan tetapi berbohong kepada non-Druze untuk mempertahankan diri atau komunitas diperbolehkan
  2. Saling melindungi satu sama lain ( termasuk dengan pemaksaan) , membantu dan menopang satu sama lain
  3. Penolakan secara mutlak terhadap semua agama ada, termasuk Islam non-Druze.
  4. Misahkan diri sepenuhnya dengan penganut non-Druze
  5. Mengakui al-Hakim sebagai satu-satunya Tuhan yang terlihat. ( termasuk mengakui penjelmaan Tuhan yang sebelumnya)
  6. Menyerahkan diri sepenuhnya, puas dengan pekerjaan Tuhan
  7. Ketaatan sepenuhnya, menyerahkan seluruh perintah kepada Tuhan, atau wakilnya, sampai al-Hakim kembali.[http://teguhmanurung.wordpress.com/2008/10/03/druze-faith/]
Alam Ghaib
Mengenai konsep nabi mereka juga percaya bahwa dalam setiap lingkaran kehidupan akan turun lima roh yang berbeda. Kelima roh yang berbeda ini berfungsi memberikan pengajaran kepada manusia tentang jalan yang benar menuju surga dan Tuhan. Akan tetapi, bersamaan dengan turunnya limaroh tadi, bersamaan pula turun lima roh lain yang menjauhkan manusia dari jalan kebenaran tersebut menuju jalan kegelapan. Mereka juga percaya akan nasib setiap manusia kan mengalami kesenangan dan kesedihan secara silih berganti seperti roda yang terkadang diatas terkadang di bawah.[http://teguhmanurung.wordpress.com/2008/10/03/druze-faith/]

Nabi-Nabi Dalam Duze
Mereka memercayai akan para nabi yang ada dalam agama lain seperti Nuh, Abraham, Sarah, Yaiub, Musa, Sulayman, Yohanes Pembaptis (Yahya), dan Yesus (Isa). Tetapi ada tokoh lain yang mereka anggap menjadi nabi yaitu Jethro yang merupakan ayah angkat Musa dengan status sebagai salah satu nabi besar.

Keistimewaan yang lain adalah mereka juga memercayai ajaran dari filsuf-filsuf Yunani seperti Plato, Phytagoras, dan lain-lain yang mempunyai kedudukan yang sama dengan nabi yang lainnya. Mereka juga menganggap Al-Hakim sebagai nabi utama seperti Muhammad dalam agama Islam ataupun Yesus dalam agama Nasrani.[http://teguhmanurung.wordpress.com/2008/10/03/druze-faith/]

Ketuhanan
Pada dasarnya mereka menganut paham monoteis, percaya pada satu Tuhan. Mereka mengenal tujuh nabi besar, termasuk di dalamnya, Adam, Abraham, dan Yesus (yang hanya mereka percaya sebagai putra Yusuf). Setiap nabi besar membawahi tujuh nabi yang masing-masing memunyai dua belas murid.

Kitab Suci
Orang Druze menganggap Al-Qur`an sebagai sesuatu yang suci, namun mereka hanya menganggapnya sebagai kulit luar yang membungkus "makna ajaran yang lebih dalam yang hanya dipahami oleh orang-orang tertentu saja". Kitab agama mereka pada umumnya dikenal dengan nama "Kitab Al Hikma", Buku Kebijaksanaan. Kitab ini adalah kumpulan buku, di mana enam buku pertama adalah buku-buku yang paling sering digunakan.

Akan tetapi mereka mempunyai kitab suci yang lainnya yang bernama Rasahl Al-Hikma yang berarti Surat Kebijaksanaan yang sebagian besar ditulis oleh Al Muqtana. Selain itu adapula kitab yang ditulis oleh Al-Hakim,Hamza dan lain-lain. Kitab Suci ini terdiri dari 6 bagian yang masing-masing mempunyai isi dan fungsi yang berbeda-beda. Walaupun begitu, mereka juga memasukkan tulisan-tulisan dari para filsuf Yunani seperti Plato, Phytagoras, dan lain-lain. Selain itu mereka juga teroengaruh unsur-unsur yang terdapat dalam Alkitab seperti mengakui Yesus sebagai utusan Tuhan.[http://teguhmanurung.wordpress.com/2008/10/03/druze-faith/]

Ibadah
Mereka menjalankan ibadah puasa seperti umat Agama Islam lainnya, akan tetapi para pemeluk agama Druze ortodox, mereka menjalankan puasa tersebuyt untuk melindungi diri mereka dari serangan pemeluk agama yang lainnya, selain itu mereka juga mengangga puasa yang dijalankan dalam agama Druze berbeda dengan agama Islam, karena menurut mereka, puasa yang dijalankannya 10 hari sebelum Idul Adha, dan pada saat puasa hanya boleh mengkonsumsi makanan ringan sekali pada saat sore hari. [http://teguhmanurung.wordpress.com/2008/10/03/druze-faith/]

Sosial Keagamaan
Sedangkan dalam hubungan sosial antara sesama pemeluk agama Druze, mereka mempunyai suatu prinsip kepercayaan hidup yaitu berkata jujur, melindungi sesama, menghormati yang tua, membantu sesama, melindungi tempat tinggal, dan percaya pada satu Tuhan. Selain itu, masyarakat ini memercayai suatu reinkarnasi pada setiap manusia, menolak poligami, merokok, alkohol, dan makan babi. Walaupun banyak golongan al-Juhl (golongan yang tidak taat) yang tidak melaksanankan prinsip tersebut.[http://teguhmanurung.wordpress.com/2008/10/03/druze-faith/]

Perkawinan
Dalam hak perkawinan, menurut aturan agama Druze, karena agama Druze adalah agama yang dianut berdasrkan turunan dan tidak boleh terjadi perpindahan agama, maka dalam perkawinan pun seorang pemeluk Druze tidak boleh menikah dengan agama lain termasuk "Islam" Druze itu sendiri. Dalam kehidupan rumah tangga, kedudukan suami dan istri setara dan kedua-duanya berhak mengajukan perceraian bila terjadi perselisihan.[http://teguhmanurung.wordpress.com/2008/10/03/druze-faith/]


Alam Kematian dan Sesudahnya
Reinkarnasi
Orang Druze percaya pada perpindahan jiwa/roh. Artinya, saat seseorang mati, jiwanya secara spontan tereinkarnasi (dalam waktu dan ruang) dan kemudian terlahir kembali dalam kehidupan yang lain. akan tetapi berbeda dengan kepercayaan Hindu, reinkarnasi tersebut dalam bentuk yang sama sebagai contoh laki-laki akan bereinkarnasi kembali menjadi laki-laki pula. [http://teguhmanurung.wordpress.com/2008/10/03/druze-faith/]

Surga dan Neraka
Konsep pemikiran mereka mengenai surga dan neraka bersifat spiritual. Mereka percaya bahwa surga adalah kebahagiaan terbesar saat jiwa mereka bertemu dan bersatu dengan Pencipta mereka. Neraka adalah rasa sakit yang disebabkan hilangnya kesempatan bertemu sang Mahabesar yang mulia untuk selama-lamanya.[http://teguhmanurung.wordpress.com/2008/10/03/druze-faith/]

Kiamat
Mereka juga percaya akan datangnya kiamat, seperti yang telah disebutkan diatas, saat kiamat datang Al-Hakim akan datang kembali sebagai penerang dan penunjuk jalan.[http://teguhmanurung.wordpress.com/2008/10/03/druze-faith/]

Daerah-Daerah Kaum Druze


Kaum Druze kebanyakan tinggal di Lebanon, meskipun ada pula komunitas yang kecil di Israel, Suriah, dan Yordania.

Komunitas-komunitas besar yang terdiri dari kaum ekspatriat terdapat di Amerika Serikat, Kanada, Amerika Latin, Afrika Barat, Australia dan Eropa. Mereka menggunakan bahasa Arab dan mengikuti pola sosial yang sangat mirip dengan orang-orang Arab lainnya dari wilayah itu. Kebanyakan Druze menganggap diri mereka Arab.

Diperkirakan ada sekitar 2,3 juta Druze di seluruh dunia, dan kebanyakan daripadanya berada di Levant atau Mediterania Timur. Namun, sejumlah orang memperkirakan keseluruhan populasi Druze hanyalah sekitar 450.000 orang saja.

Dalam kehidupan sosialnya, mereka tidak menunjukan perbedaan lahirliah dengan masyarakat yang lain, tetapi dalam kehidupan rohaniah mereka menutup diri mereka dengan komunitas lain. Berdasarkan perhitungan pada tahun 1987, pengikut agama ini berjumlah setenga juta sampai satu juta jiwa dengan rincian :
  • Lebanon: 325,000.
  • Syria: 245,000.
  • Jordan: 10,000.
  • Palestine: 65,000.
  • Negara Arab lainnya : 40,000.
  • Negara non- Arab : 70,000.
  • Total: 755,000.
[http://teguhmanurung.wordpress.com/2008/10/03/druze-faith/]

Kehidupan Sosial dan Penyebaran Masyarakat Druze di Israel

Walupun komunitas terbesar Druze di Timur Tengah berada di terdapat di Lebanon, akan tetapi perkembangan kehidupan sosial yang signifikan terjadi di Israel. Walaupun banyak diantara umat Druze ini yang tidak mengakui Israel karena sebagian besar adalah minoritas yang terdiri dari orang-orang Arab, akan tetapi banyak pula masyarkat Druze yang mendukung Israel dan yang terjun dalam bidang-bidang strategis seperti pengusaha, militer, bahkan dalam bidang pemerintahan.

Bidang Militer (Batalyon Druze Herev)
Dalam bidang militer misalnya, sejak tahun 1948 banyak masyarakat yang telah mengikuti wajib militer dan menjadi tentara Israel. Bahkan sejak tahun 1956, karena prestasinya dalam penyerangan ke Lebanon untuk melawan tentara-tentara Hezbollah. Tentara Druze yang dikenal juga menjadi Batalyon Druze Herev. Setelah pertempuran itu banyak pihak-pihak di luar komunitas Druze yang mengusulkan untuk mengubah batalyon tersebut menjadi pasukan elit.
Walaupun sebagai minoritas di Israel, sejak Januari 2004 telah ditandatangani suatu deklarasi oleh pemimpin keagamaan komunitas Druze yaitu Shaykh Mowafak Tarif. Deklarasi itu sendiri berisi tentang penghormatan terhadap Tujuh Pilar Druze yang diakui tidak saja oleh komunitas Druze tetapi juga oleh orang-orang non-Druze. Adapula usulan untuk memasukan Tujuh Pilar Druze ini sebagai bagian dalam Hukum Taurat Yahudi.

Mendirikan Komunitas Khusus Druze dan Keberadaannya

Selain sebagai komunitas minoritas di Israel dan sifat agamanya yang tertutup, banyak diantara penganut Druze yang mendirikan desa homogen khusus untuk umat Druze saja tetapi pada akhir abad 20, sekelompok kecil umat Nasrani dan Islam berpindah ke daerah-daerah Druze tersebut. Mereka tinggal di utara terutama di puncak-puncak bukit, yang secara historis digunakan sebagai pertahanan dari serangan musuh (pemeluk agama non-Druze).

Komunitas Druze pun mempunyai daerah hunian yang berbeda-beda. Ada yang memilih tinggal di desa-desa, adapula yang memilih tinggal kota besar. Tetapi komunitas Druze di kota pada umumnya adalah para transmigran yang berpindah dengan alasan tertentu dari desa-desa di daerah pegunungan ke kota-kota dan bercampur dengan etnis Arab dan Yahudi Salah satu Kota besar komunitas Druze di Israel adalah Daliyat el-Carmel, yang berlokasi di Gunung Carmel di pusat Taman Nasional Carmel, di selatan kota Haifa tang dibangun 400 tahun yang lalu. Daliyat el-Carmel dihuni oleh 13.000 penduduk yang berasal dari bukit-bukit di sekitar Allepo(Halab) in utara Syria, asal usul ini didukung dengan logat bahasa Allepo yang masih terdengar dan nama-nama keluarga khas Allepo (Halabi). Pasar besar di pusat kota memamerkan produk produk dari Druze maupun orang Arab lainnya menarik turis Israel maupun turis dari luar negeri untuk datang dan si sana juga terdapat patung peringatan kejatuhan tentara Druze.

Isfiya yang juga terletak di gunung Carmel, dibuat dari reruntuhan pemukiman Bizantium. Banyak barang peninggalan dari para ksatria dan relief-relief dinding dan rumah-rumah yang menjadi bukti-bukti bagi sejarawan untuk mempercayai bahwa dahulu tempat ini adalah basis tentara salib. Pada tahun 1930, setelah menetapnya orang-orang Yahudi Husfiah selama 5 abad di desa ini. Mereka membangun pula Sinagoga dengan lantai mosaik yang menjadi lambang Yahudi dan catatan yang berarti “Damai di Israel” dan sebanyak 4500 koin emas yang didapatkan pada masa Romawi. Desa mideren baru dibangun oada abad 18 ketika para penduduknya hidup dari minyak zaitun, madu, dan anggur yang tumbuh di sana. Sekitar 9000 orang hidup di Isfiya yang 70 % adalah Druze dan sisanya adalah Islam dan Kristen. Makam Abu Abdallah terletak di kota itu pula.

Di timur laut kota Haifa terdapat desa Shfar’am, yang terdapat penduduk dengan akar kebudayaan kuno. Shfar’am termasuk di dalam Talmud dan pada abad kedua dikuasai oleh Sanhedrin, pemimpin agama Yahudi. Masyarakat Yahudi di kota ini, berasal dari masa akhirabad pertengahan, yang secara perlahan berpindah mulai abad 19 sampai abad 20. Terdapat 27.000 Druze, Nasrani dan Muslim hidup di kota ini sekarang dan desa-desanya merupakan suatu peninggalan yang kudus dn rumah ibadah tiga komunitas agama tersebut.


Di utara, setelah melewati Danau Kinneret, kita akan menjumpai kota Magar yang dipercayai sebagai peninggalan dari kota Ma’arriya dimana keluarga pendeta hidup disana pada masaTalmudic. Jejak historis memasukkan banyak pohon-pohon zaitun di sekitar desa, yang mana masih dapat dilihat sampai sekarang. Terdapat 17.000 orang yang tinggal di Maghar sekarang, 60 %nya adalah Druze, 20 % Islam, dan 20 % Nasrani.

Desa Rama yang berpopulasi sekitar 7000 jiwa di utara MAghar dibangun di sebuah peninggalan alkitab kuno yaitu Ramot Naftali. Rama terkenal akan tingkatan budayanya, yang berasal dari masa Mandate. Pada tahun 1948, profesi dokter,pengacara, dan insiyur di kota Rama adalah yang terbesar di Arab. Mendekati desa SAjur yang lebih kecil

Bertempat di utara Rama, di atas puncak gunung Meron, terdapat desa yang seluruh penduduknya beragama Druze yaitu Beit Jan. Desa ini adalah desa yang tertinggi di Israel, 940 di atas permukaan air laut. Dan mempunyai populasi 9000 jiwa. Tidak jauh dari sanaterdpaat Peki’in, salah satu dari desa kuno di Israel. Terdapat banyak peninggalan sejarah yang berasal dari abad 13 yang terkenal dengan sumber mata air,kebun buah-buahan, dan minoritas Yahudi, yang telah ada disana dan masih sampai sekarang sejak masa periode kedua. Di dalam dan didekat desa ini terdapat peniggalan-peninggalan Druze dan Yahudi, termasuk Sinagoga Yahudi yang berasal dari zaman Romawi. Sekolah Druze tertua di Peki’in oleh gereja Rusiadi akhir abad 19.

Ein El-Asad adalah satu-satunya desa yang dibangun pada abad 20 terletak di dekat nya. Orang-orang desa asli berasal dari Beit Jan dan dari Syria serta Lebanon. Kafr Sumei, di selatan PEki’in diperkirakan berasal dari peninggalan Kefar Sama, yang termasuk peningalan kesusastraan Israel.

Di selatan Kafr Sumei terdapat kota Kisra yang di dalamnya terdapat desa-desa kecil Druze di negara ini pada abad 19. Desa itu sekarang terdiri dari 3500 orang. Di dekat desa itu terdapat desa YAnuah yang tertulis dalam alkitab sebagai Janoah, dokumen-dokumen Talmud dan Crushader. Selanjutnya dari desa ini terdapat tempat keramat bagi Nabi Islam yaitu Shams.

Satu-satunya desa Druze di barat Galilea yaitu Yirka adalah sebuah peninggalanpabrik-pabrik besar di Timur Tengah, pabrik baja kepunyaan keluarga Kadmani. Pabrik itumemberi manfaat bagi desa tersebut sebagai akibat sebuah daerah industri komersial besar. Dengan populasi 11.000 Druze, Yirka adalah sebuah tempat yang penting, yang paling terkenal adalah Makam dari Sheikh Abu Saraya Ghanem pemimpin penting Druze pada abad 11.

Abu Sinan adalah sebuah kota Druze besar di daerah tersebut, ini terdapat dalam dokumen yang berasal dari tahun 1250 swbagai benteng Busnen. Abu Sinan menjadi sebuah kota penting ketika pada mas kekuasaan seorang Druze Emir Fahr ed-Din al-Mani, yang membuat istana di sana untuk anaknya pada tahun 1617. Sekarang Abu Sinan dihuni oelh 10.000 orang dengan presentase 35 % Druze dan sisanya adalah pemeluk Nasrani dan Islam. Makam dari Nabi Zakaria dan Sheikh al-Hanbali terletak pula di kota ini.

Di selatan Abu Sinan terdapat sebuah desa yang tenang yaitu Julis, kampung halaman dari Sheikh Amin Tarif, pemimpin keagamaan komunitas Druze di Israel yang meninggal pada tahun 1993. Cucunya ,Saleh Tarif yang hidup pula di Julis adalah orang Druze pertama yamg diangkat menjai menteri di pemerintahan Israel.

Umat Druze juga tinggal di Jat, sebuah desa di timur laut Abu SInan sejak abad 17. Kitab Suci Druze mneyebutkan Syekh Abu Arus yang bertantanggung jawab terhadapa penyebarab agama Druze di daerah ini dan yang membakar kota ini. Populasi penduduk dikota ini berjumlah 8000 orang.

Desa Hurfeish berada pada jalan ke timur menuju kota pantai Nahariya, dan terdapat peninggalan dari makan Nabi penting yaitu Sablan. Setiap tanggal 10 Septembaer, Umat Druze datang untuk merayakan festival di desa ini. Pada tahun 1972, sebuah monumen didirikan di Hurfeish sebagai peringatan kepada tentara Druze yang berperang dengan tentara pertahanan Israel.

Dengan sekitar 8000 penduduk, Madjdal Shams dianggap sebagai pusat komunitas Druze di Golan. Penduduk terpenting yang secara spiritual dan politik kuat yaitu Abu-Salah dan keluarga Safdie. Madjal Shams berada di selatan kaki gunung Hermon dan dikelilingi oleh kebun buah-buahan, perkebunan terpenting dengan apel dan Cherie kualitas terbaik.

Lebih dari 3000 penduduk Mas’ada, bekerja pada Abu-Salah dan keluarga Safdie di Madjal Shams yang awalnya terbentuk dari peternakan di selatan Majdal Shams, setelah berjalanya waktu, Mas’ada berkembang menjadi desa yang besar yang memproduksi hasil-hasil pertanian

Di selatan Mas’ada terdapat desa Buka’ata yang dibangun seratus tahun yang lalu ketika terjadi sebuah perselisihan keluarga di Madjal Shams yang menyebabkan banyak penduduk yang melarikan diri dari kewajiban ganti rugi dan tindakan balas dendam. Sekarang sekitar 5000 orang bermatapencaharian dengan cara menanam apel dan anggur.

Ein Kenya berada di barat daya kaki gunung Hermon, di atas Alam Banyas , penduduk di Ein Kenya termasuk pula orang-orang Kristen, tetapi sekarang 1600 penduiduknya adalah pemeluk Druze. [http://teguhmanurung.wordpress.com/2008/10/03/druze-faith/]



Sumber

No comments:

Powered by Blogger.